
MANADO (29/1) – Jajaran pegawai Kristen di Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sulawesi Utara diingatkan untuk menjaga integritas moral dalam menjalankan tugas negara. Hal ini mengemuka dalam ibadah rutin Persekutuan Oikumene Kanwil Kemenkum Sulut yang menghadirkan Pendeta Thedd J. Windewani sebagai pelayan firman.
Mengangkat nats Alkitab dari 2 Tawarikh 19:4-7, Pendeta Windewani mengulas sosok Raja Yosafat sebagai pembaharu spiritual yang meletakkan dasar hukum berdasarkan kedaulatan Tuhan. Ia menekankan bahwa jabatan yang diemban oleh para pegawai merupakan perpanjangan tangan Tuhan untuk menghadirkan keadilan bagi masyarakat.

Dalam khotbahnya, Pendeta Windewani menegaskan bahwa kehadiran setiap Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kemenkum Sulut bukanlah sebuah kebetulan, melainkan panggilan untuk pengabdian.
“Pertimbangkanlah apa yang kamu perbuat, karena bukan untuk manusia kamu mengadili, melainkan untuk Tuhan. Setiap keputusan yang diambil oleh pegawai harus mencerminkan karakter Tuhan yang kasih dan adil,” ujar Pdt. Windewani.

Ia memberikan tiga poin utama sebagai standar moral bagi pegawai dalam melayani publik: Panggilan Pengabdian, Rasa Takut akan Tuhan dan Alkitab sebagai Standar Moral.
Pendeta juga mengutip Mikha 6:8, mengingatkan para pegawai untuk senantiasa hidup dengan rendah hati dan berdiri teguh pada kebenaran tanpa keberpihakan yang menyimpang.

Seusai ibadah, Kepala Kantor Wilayah Kemenkum Sulut, Hendrik Pagiling, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas pembinaan kerohanian yang konsisten dilakukan. Ia berharap nilai-nilai spiritual ini berdampak langsung pada kualitas pelayanan di kantor.
“Biarlah pesan yang disampaikan menjadi pengingat agar kita tidak saling menjatuhkan, melainkan saling memberi energi positif. Sebagai orang Kristen, komitmen kita adalah memberikan yang terbaik bagi masyarakat dan menjaga integritas hingga akhir,” tutur Hendrik.


